Membangun Kajar, Membangun Indonesia

Indonesia adalah negara agraris, dimana mayoritas penduduknya bekerja pada sektor pertanian. Setidaknya, dari data yang dilangsir oleh dinas kependudukan 55% dari jumlah penduduk Indonesia bekerja pada sektor ini1. Pertanian sebagai salah satu sektor yang menjadi tulang punggung perekonomian bangsa, tentu memainkan peranan penting dalam pembangunan. Oleh karena itu, perhatian serius dari pemerintah sangat diperlukan demi suksesnya program-program di sektor pertanian, utamanya untuk mendukung kedaulatan pangan yang berkelanjutan.

Bondowoso, sebagai salah satu kabupaten di Propinsi Jawa Timur yang  perekonomiannya masih bertumpu pada sektor pertanian, perlu kiranya membangun sinergi yang baik dengan berbagai pemangku kepentingan dalam kontribusinya untuk mendukung kedaulatan pangan nasional.

Dewasa ini, Bondowoso muncul sebagai kabupaten dengan jargon “Republik Kopi”. Hal ini adalah salah satu usaha dari pemerintah Kabupaten Bondowoso untuk mempromosikan daerahnya sekaligus membuktikan bahwa Bondowoso adalah tanah yang dianugerahi kopi yang berkualitas, tidak kalah dari daerah-daerah lainnya. Posisi Kabupaten Bondowoso yang terletak di dataran tinggi, semakin mengukuhkan Bondowoso sebagai daerah penghasil kopi yang berkualitas.

Namun, di balik jargon “Bondowoso Republik Kopi”, ada sepintas cerita kecil yang patut untuk diceritakan. Ini soal sebuah desa kecil yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kopi, sebuah masyarakat yang masih menganggap kopi sebagai bahan pelepas kantuk atau sekedar suguhan untuk para tamu yang datang ke rumah. Ini soal Bondowoso, soal cerita dibalik hingar bingar  Republik Kopi.

Kajar adalah salah satu desa di Bondowoso. Sama halnya dengan desa-desa lainnya, sama halnya dengan kampung-kampung lain, tidak ada beda, dan karena persamaan itu, Kajar mampu mewakili desa-desa lain sebagai objek cerita.

Disini, sekitar 6 kilometer dari pusat kota. Masih dekat memang, tetapi citarasa pedesaan sudah mulai kental dapat dirasakan. Para petani pergi ke sawah di pagi hari, ibu-ibu memasak dan bersih-bersih, anak-anak bersekolah, dan hanya sebagian kecil dari masyarakat di desa ini yang tidak mengikuti rutinitas yang sama. Tujuh hari dalam seminggu, empat minggu dalam satu bulan, dan dua belas bulan dalam setahun, setidaknya, itu adalah keseharian yang ada dan akan selalu dilakukan.

Kajar adalah sebuah desa yang menyimpan banyak potensi. Desa ini terdiri dari empat dusun, yaitu Krajan 1, Krajan 2, Selat, dan Klampes, meskipun kedepan telah direncanakan pemekaran wilayah pada beberapa dusun, paling tidak untuk sementara waktu akan dikenal keempat dusun ini.

Krajan, baik itu Krajan 1 dan 2 memiliki potensi air yang melimpah, disini dapat ditemukan puluhan sumber mata air artesis yang sayangnya, semuanya masih belum dimanfaatkan secara maksimal. Di kedua dusun ini pula konsentrasi pemukiman penduduk yang tertinggi berada yang mana dikenal memiliki etos kerja yang baik. Sementara itu, potensi yang dimiliki oleh dusun yang lain, yaitu Klampes dan Selat utamanya berada pada sektor pertanian. Hamparan luas areal persawahan dapat ditemukan di kedua dusun ini.

Kajar memang sebuah desa yang bertumpu pada sektor pertanian, namun disamping itu ditemukan pula beberapa industri yang telah beraktifitas secara aktif, diantaranya pembuatan arang dan pengolahan plastik bekas. Kedua Industri ini merupakan salah satu yang terbesar dalam lingkup Bondowoso, yang mana keduanya memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian desa.

Universitas Jember melalui program KKN (Kuliah Kerja Nyata) memiliki tujuan utama dalam menggali potensi desa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Desa Kajar, sama halnya dengan desa-desa lainnya di Bondowoso, bahkan di seluruh area tapal kuda berkesempatan untuk mendapatkan bantuan ini. Terkhusus untuk Kabupaten Bondowoso, pada tahun 2017 ini telah bekerja sama dengan Universitas Jember dalam membangun Sistem Administrasi dan Informasi Desa (SAID), yang mana bertujuan untuk mengintegrasikan seluruh data dari desa pada suatu sistem yang dapat diakses oleh Pemerintah Kabupaten Bondowoso secara langsung. Dalam hal ini, untuk Desa Kajar, kelompok KKN yang ditugaskan membantu Desa Kajar dalam usahanya untuk mengembangkan SAID serta turut membangun masyarakat desa yang lebih sejahtera adalah kelompok KKN UMD 38.

Kelompok KKN UMD 38, disamping menjalankan tugas utamanya dalam mereplikasi SAID juga diberikan amanah berupa implementasi program One Village One Product (OVOP) dimana desa yang kami ampu harus memiliki satu produk yang bisa diunggulkan. Desa Kajar dengan berbagai potensinya tersebut, untuk hal itu, kami memilih produk “Monela” sebuah akronim dari Molen Ikan Nila yang mana merupakan sebuah produk olahan dari ikan nila terkhusus berukuran 2-5 cm.

Namun, terlepas dari kedua kewajiban tugas yang diberikan, kami merasa bahwa ada perihal-perihal penting lain yang harus kami kerjakan berbarengan dengan kedua tugas wajib kami tersebut. Karena dalam perjalanannya, kami melihat banyak permasalahan di Desa Kajar yang mana kami harus berkontribusi di dalamnya meskipun barang sedikit.

Permasalahan air dan sampah adalah dua hal yang menurut kami harus diselesaikan. Berkaitan dengan air, diperlukan distribusi air yang baik untuk masyarakat. Mengingat dusun Klampes dan Selat adalah dua dusun yang sulit air ketika kemarau, maka diperlukan sistem distribusi air yang dapat mengatasi hal itu. Dan untuk permasalahan sampah, kami merasa diperlukan sebuah sistem berkaitan dengan pengelolaan sampah rumah tangga di Desa Kajar. Meskipun banyak yang menilai bahwa, desa tidak perlu sistem pengelolaan sampah yang bagus bagus, cukup gali lubang tutup lubang, cukup buang sampah di sungai, dan kami tidak mau itu. Masyarakat harus diberikan pendidikan mengenai melestarikan lingkungan semenjak dari dini, semenjak dari kecil dan perihal ini harus diajarkan di tempat yang paling pelosok sekalipun, bahkan di Kajar.

Tahun ini, air harus tersalurkan, masyarakat dusun Selat dan Klampes harus mendapatkan air bersih yang layak, mereka harus merasakan rasanya mandi dengan air ledeng yang bersih, bukannya di kali. Setidaknya kami KKN UMD 38 harus memberikan kesadaran bahwa air bersih itu penting, sangat penting bagi kehidupan masyarakat. Sarana prasarana lain kemudian dapat menyusul, seperti fasilitas MCK (Mandi Cuci Kakus) ketika sistem distribusi air telah terbangun dengan baik.

Tahun ini pun, setiap rumah tangga di Kajar harus memiliki tempat sampah, yang mana telah terpisah antara sampah organik dengan anorganik. Penyuluhan mengenai hal ini telah kami lakukan, dengan respon yang baik pula dari masyarakat. Setelah setiap rumah tangga memiliki tempat sampah, selanjutnya disediakan sarana pengangkutan menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) meskipun masih skala desa, namun hal ini harus dipikirkan. Setelah kemudian dibangun sebuah TPA, maka dipikirkan pula pengolahan sampah yang sebelumnya telah dipilah tersebut. Bank Sampah dapat menjadi solusi, itu yang kami pikirkan. Jauh-jauh hari kami telah mendatangi beberapa bank sampah di kota Bondowoso dan dengan respon baik sipa untuk membantu.

Dalam hal-hal materi, sebenarnya kami telah siap. Kami telah belajar mengenai sistem pengelolaan sampah pada dinas lingkungan hidup bondowoso, belajar manajemen bank sampah di daerah badean, belajar cara membuat kompos, bokasi maupun pupuk cair, berbagai macam referensi telah kami dapat, kami telah siap, hanya permasalahan dana mungkin yang bisa menghentikan langkah kami.

Dua tiga hari, kami jalin komunikasi dengan perangkat desa untuk menyampaikan banyak gagasan yang ingin kami realisasikan. Komunikasi berjalan dengan baik, gagasan-gagasan kami ternyata searah dengan program kerja pemerintah desa. Semoga apa yang telah kami lakukan bermanfaat, meskipun itu kecil, meskipun kami masih belum memberikan warna yang kontras terhadap kemajuan Desa Kajar, kami harap, apa yang telah kami berikan dapat dikenang sebagai suatu kebaikan yang tulus.

Namun daripada itu, masih belum puas apa yang kami kerjakan. Masih banyak permasalahan yang perlu diselesaikan. Seperti halnya desa-desa lain, sama halnya dengan kampung-kampung lainnya, usaha dan ikhtiar dalam semangat mengangkat desa-desa di Indonesia dari jurang kemiskinan, dari jurang ketidak sejahteraan masih akan terus berlanjut. Diperjuangkan oleh mahasiswa-mahasiswa lain, diperjuangkan dari tahun ke tahun, demi Indonesia dan demi kemanusiaan. Dan, Ini tetaplah cerita soal sebuah desa, yang tak peduli hingar bingar kepentingan politik para elit penguasa. Ini soal cerita sebuah desa, tentang perjuangan akan hidup dan nestapa tiada akhir. Mari kita berpikir secara luas dan membangun Indonesia dari desa.

 

Oleh: KKN UMD 38 Unej

Sumber :

www.indonesia-invesments.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *